Peran Hakim Dalam Penerapan Diversi Anak Pelaku Tindak Pidana Pencurian

  • Marlina UMA

Abstract

Anak merupakan korban meskipun sebagai pelaku tindak pidana oleh karena pelaku mendapatkan perlindungan hukum. Salah satu bentuk perlindungan adalah penerapan proses diversi. Diversi bisa dilakukan pada semua tahap proses peradilan pidana mulai proses penyelidikan, pennuntutan sampai proses persidangan. Contoh Pengadilan Negeri Medan dalam 165 kasus anak tahun 2015-2016 dan kasus pidana tindak pencurian sebanyak 91 kasus hanya dua kasus yang dilakukan diversi. Data ini menunjukan gagalnya diversi dilkukan. Berdasarkan data tersebut memunculkan pemikiran untuk melakukan analisis terhadap peran hakim dalam penerapan diversi terhadap anak pelaku tindak pidana dalam proses peradilan pidana.

             Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian normative. Sumber data primer, sekunder dan tersier teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakan (library research) yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi berupa buku, karangan ilmiah, peraturan perundang-undangan dan bahan hukum tertulis lainnya yang berkenaan dengan penelitian yaitu dengan cara mencari, mempelajari dan mencatat serta mengimpletasikan sesuai dengan objek penelitia. Selanjutnya data yang di peroleh tersebut akan dianalisi secara kualitatif.

            Berdasarkan hasil penelitian peran hakim dalam diversi diatur dalam undang-undang RI. Nomor. 11 tahun 2012. Peraturan pemerintah republik indonesia Nomor. 65 tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana anak. Peraturan mahkamah agung No.4 tahun 2014 tentang pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana. Surat mahkamah agung Nomor. 6 tahun 1987 tentang tata tertib sidang anak.

Published
2018-02-27
Section
Non Eksakta